LOMBOK TIMUR, Suaraselaparang.com – Untuk memastikan ketersediaan stok pupuk bersubsidi, Tim Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) Kabupaten Lombok Timur yang dipimpin langsung Kepala Dinas Pertanian Ir. Sahri, turun langsung melakukan Monitoring dan Evaluasi (Monev) ke para pengecer, Jum’at (23/8/2024).
Sahri menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk memonitor stok pupuk bersubsidi di tingkat pengecer untuk memastikan apakah stok aman, juga untuk memastikan penyalurannya tepat sasaran kepada petani sesuai dengan RDKK.
“Tujuan kita melakukan Monev ini untuk memastikan apakah pupuk bersubsidi ini benar-benar sudah sesuai dengan aturan,” tegas Sahri didampingi Kepala Dinas Perdagangan Lombok Timur, Mahsin.
Sahri bersyukur karena dari sekian pengecer yang ditemui, semuanya memiliki stok yang memadai, bahkan tidak ada yang menjual melebihi ketentuan yang ada sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Salah seorang pengecer pupuk bersubsidi yang beralamat di Dusun Loang Tuna, Desa Banjar Sari, Kecamatan Labuhan Haji dengan nama kios UD. Prima, Marwan Hadi, mengatakan bahwa pada tahun ini tidak pernah terjadi kelangkaan pupuk. Meski tentu belum bisa memenuhi secara penuh kebutuhan petani.
Marwan yang menghandle dua kelompok tani diwilayahnya setiap tahunnya mendapatkan kuota sebanyak 20 ton dalam satu kali Masa Tanam (MT). Jika dikalikan tiga kali TMT, maka ia mendapatkan jatah 60 ton dalam satu tahun.
“Kelangkaan pupuk itu tidak ada. Dan daya tebus petani di sini luar biasa, tapi kan jatah kita terbatas. Sehingga kalo jatahnya sudah habis mereka akan nyari yang non subsidi,” terang Marwan.
Tahun ini, Marwan menyatakan sudah menerima pendistribusian untuk MT satu dan dua. Sedangkan untuk jatah MT tiga akan ia tebus pada pekan depan. Itu artinya, jatah yang ia terima selalu tepat waktu, kecuali pada akhir tahun yang terkadang sedikit mengalami keterlambatan.
“Kecuali awal tahun, karna kan biasanya masih proses. Nah mungkin itu yang dianggap terjadi kelangkaan. Tapi sesungguhnya tidak ada kelangkaan,” akunya.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Wiliadi, salah seorang pengecer yang berpangkalan di Kelurahan Suryawangi. Ia mengakui bahwa selama ini dirinya tidak pernah menjual di atas harga HET.
“Tetap sesuai HET, tapi kadang-kadang lebih tinggi sedikit karna dia (petani-red) hutang,” seloroh Wiliadi sembari tertawa kecil.
Pengakuan yang sama juga diungkapkan Wiliadi bahwa tahun ini tidak pernah terjadi kelangkaan pupuk bersubsidi. Terkecuali pada awal tahun yang memang dalam posisi menunggu penyaluran.
Soal daya tebus petani di wilayah Kelurahan Suryawangi diakuinya tidak terlalu tinggi. Meski begitu jatah yang ia terima dalam satu tahun yakni 70 ton untuk urea, dan 50 ton jenis Phonska selalu habis terjual, meski terkadang ada yang masih dihutang.
“Untuk stok Alhamdulillah aman. Tidak pernah terjadi langka. Tapi kalo dikatakan kurang, ya masih kurang dari kebutuhan petani. Tapi tahun ini ada penambahan, nanti kita lihat mudah-mudahan mencukupi,” pungkasnya.









