LOMBOK TIMUR, Suaraselaparang.com – Iringan suara drum band dengan senyuman manis serta sikap yang ramah dari siswa siswi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Batu Putik, Kecamatan Keruak, Lombok Timur menyambut kedatangan jurnalis di sekolah tersebut, Sabtu (31/5/2025).
Tak hanya itu, gerakan tubuh yang ritmis dan indah serta dibalut pakaian adat mengikuti irama musik tradisional (gamelan) yang mengalun perlahan menghadirkan meriahnya suasana penyambutan dari siswa siswi dan segenap para guru di sekolah yang letaknya sangat terpencil itu.
“Ini adalah budaya yang kami tanamkan kepada anak-anak, dimana setiap tamu yang datang akan kita berikan sambutan yang baik sesuai dengan nilai-nilai adat dan budaya kita,” ujar Kepala SDN 3 Batu Putik, H. Nursalim, S.Pd.
Selanjutnya, H. Nursalim di depan wartawan menyampaikan program-program yang telah dilaksanakan semenjak kedatangannya di sekolah tersebut pada bulan Mei 2023, silam.
Salah satu misi SDN 3 Batu Putik dibawah nakhoda H. Nursalim adalah mewujudkan SD Besar (Sekolah Dasar Berbasis Santri) yang diimplementasikan melalui program spiritual berbasis Al-Qur’an.
Dalam pengembangannya, program tersebut kemudian dimasukkan dalam kurikulum SD Besar berbasis Medekaha (Mendidik dengan Cahaya Hati Al-Qur’an). Sistem Medekaha merupakan sistem pendidikan melalui pengembangan spiritual dan moralitas.
Konsep ini, lanjut dia, merupakan sumber inspirasi dalam pengembangan pendidikan Al-Qur’an yang akan menjadi cahaya hati. Dengan demikian, program “Sekolah Ramah Anak” dan “Sekolah Adiwiyata” sesungguhnya telah diimplementasikan melalui program SD Besar.
Lebih jauh H. Nursalim menjelaskan, program SD Besar dituangkan dalam tiga program. Yang pertama, sekolah Al-Qur’an, yang dilaksanakan setiap sore dari hari Senin sampai Kamis.
“Sekolah Al-Qur’an inilah yang mendorong terwujudnya 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH),” terangnya.
Yang kedua, sekolah ramah anak. Melalui pendekatan Al-Qur’an dapat dipastikan tidak akan terjadi lagi kekerasan dan bullying di lingkungan sekolah, baik oleh sesama siswa maupun oleh guru. Karena pendidikan Al-Qur’an dilaksanakan dengan lemah lembut serta penuh kasih sayang.
“Yang paling sulit dari 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat itu, yakni kebiasaan bangun pagi. Bangun pagi ini sulit sekali, tetapi ini yang coba kita usahakan. Indikatornya adalah shalat berjamaah di masjid,” jelasnya.
Untuk menerapkan itu, pihak sekolah telah menyurati para orang tua/ wali murid untuk membiasakan para siswa untuk senantiasa shalat berjamaah di Masjid. Sebab jika hanya shalat subuh di rumah, dapat dipastikan siswa bersangkutan bangunnya kesiangan.
Yang ketiga adalah Padma (Padang Mahsyar). Program Padma merupakan parameter untuk menilai sejauh mana para peserta didik sudah melaksanakan dua program di atas, yakni program Qur’an dan ramah anak.
Program Padma rutin dilaksanakan setiap hari selama 10 menit, sebelum jam 7. Guru yang dapat jadwal piket akan menyambut siswa di halaman sekolah dengan menanyakan 7 kebiasaan itu kepada semua siswa.
“Salah satunya adalah, apakah sudah shalat subuh apa belum, shalatnya berjamaah di masjid atau di rumah?,” kata H. Nursalim mencontohkan.
Program Padma, juga telah terbukti mampu mendorong para siswa untuk giat berlatih Tahfiz Al-Qur’an setiap sore, termasuk latihan drum band dan lain-lain. Padma dianalogikan seperti sumbu, dia akan tetap berputar meskipun di jalan tanjakan dengan konsekuensi yang lebih tinggi.
“Nah, inilah yang kami lakukan sebagai bentuk aksi konkrit, implementasi 7 kebiasaan itu,” tandasnya.
Yang tak kalah penting, lanjut dia lagi, adalah pembiasaan membaca Al-Qur’an setiap hari yang dimulai pukul 6:30, kemudian panggilan Al-Fazza (membunyikan terompet seperti di Padang Mahsyar) pukul 6:40, kemudian shalat Zuhur berjamaah, serta memulai kegiatan sore dengan shalat Ashar berjamaah.
“Kemudian dilanjutkan dengan program PTS (Pengawal Taman Syurga), dan masih banyak lagi kegiatan lainnya yang semuanya sudah kita laksanakan di sini,” tutupnya.
Usai pemaparan dan tanya jawab, acara dilanjutkan dengan kegiatan podcast, dimana siswa yang diplot sebagai wartawan melakukan wawancara seputar dunia jurnalistik. Beberapa siswa sudah diberikan pelatihan jurnalistik oleh pihak sekolah.









