SELONG – LOMBOK TIMUR NTB || Suaraselaparang.com Wajah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Selong kini tampil berbeda. Di bawah kepemimpinan putra daerah, Sudirman, hunian jeruji besi tersebut bertransformasi menjadi lingkungan yang lebih kental dengan nuansa religius sekaligus produktif. Perubahan ini terungkap dalam acara silaturahmi hangat antara Kalapas Selong dan insan pers yang digelar pada Rabu (11/02/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Sudirman memaparkan berbagai program pembinaan berbasis keagamaan dan kemandirian yang tengah dijalankan sebagai upaya membentuk warga binaan menjadi pribadi yang lebih baik dan siap kembali ke masyarakat.
Dalam pertemuan tersebut, Sudirman menyampaikan rasa bangganya dapat kembali mengabdi dan membangun tanah kelahirannya sendiri.
Ia menilai, dukungan dan sinergi antara berbagai stakeholder, mulai dari pemerintah daerah, aparat penegak hukum, hingga insan pers di Lombok Timur, terjalin begitu solid dan konstruktif.
Menurutnya, kolaborasi yang harmonis seperti ini jarang ia temukan selama menjalankan tugas di daerah lain, sehingga menjadi energi positif dalam mendorong berbagai program pembinaan di Lapas Selong agar berjalan lebih optimal dan berdampak nyata.
Salah satu terobosan paling menyentuh yang diterapkan Sudirman adalah perubahan paradigma dalam sistem pembinaan.
Ia tidak lagi menyebut warga binaan sebagai narapidana, melainkan “santri” sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya membangun identitas baru yang lebih positif.
Di dalam Lapas, aktivitas mereka tidak hanya sebatas menjalani rutinitas harian seperti makan dan beristirahat, tetapi juga diisi dengan kegiatan keagamaan melalui pembentukan LPQ (Lembaga Pendidikan Al-Qur’an). Melalui program ini, para santri dibimbing untuk belajar membaca dan memahami Al-Qur’an, sehingga suasana di dalam Lapas kini terasa lebih religius dan menyerupai lingkungan pondok pesantren.
“Kami ingin menyentuh hati mereka dengan agama agar saat keluar nanti, mereka tidak kembali lagi ke sini,” ujar Sudirman saat ditemui wartawan//Suaraselaprang.com
Berdasarkan data warga binaan yang mengikuti program pembinaan keagamaan, dari total 496 orang penghuni Lapas, tercatat sebanyak 149 orang yang pada awalnya sama sekali belum mengenal huruf hijaiyah, mulai dari Alif, Ba, hingga Ta.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola LPQ di dalam Lapas. Namun demikian, semangat belajar para santri terbilang luar biasa. Meski sebagian di antaranya telah berusia lanjut, mereka tetap antusias mengikuti pembelajaran Iqro dan membaca Al-Qur’an, menunjukkan tekad kuat untuk memperbaiki diri melalui pendekatan agama.
Program unggulan yang dijalankan meliputi One Day One Juz Setiap santri wajib membaca Al-Qur’an setiap usai salat Zuhur, Sistem Mentor Santri yang sudah lancar mengaji diangkat menjadi guru ngaji bagi teman-temannya yang masih belajar Iqro, dan Satu Santri Satu Al-Qur’an Fasilitas lengkap untuk mendukung pembinaan kepribadian.
Tak hanya urusan akhirat, Lapas Selong juga membekali para santri dengan keterampilan duniawi. Sudirman memamerkan produk “Sel 199”, brand lokal karya asli santri Lapas Selong.
Beberapa program pembinaan kemandirian yang sedang berjalan antara lain Bengkel Pengelasan, Jasa Cuci Mobil dan Motor, dan Pelatihan Keterampilan Bersertifikat bekerja sama dengan BPVP, sehingga saat bebas nanti, mereka memiliki sertifikat resmi untuk mencari nafkah yang halal bagi keluarga.
“Harapan kami besar. Kami ingin mereka keluar dari sini bukan sebagai mantan warga binaan, tapi sebagai santri yang membawa perubahan bagi masyarakat,” pungkas Sudirman.
Sinergi antara pembinaan kepribadian (agama) dan kemandirian (keterampilan) ini diharapkan menjadi modal utama bagi para santri untuk memulai lembaran hidup yang baru dan bersih.
“Dan oleh-oleh mereka saat mereka bebas diberikan Al Quran sama-sama satu,” tutupnya.

