BerandaBERITA UTAMACerita Opik, Putra NTB Peraih Beasiswa S3 di Tanah Eropa

Cerita Opik, Putra NTB Peraih Beasiswa S3 di Tanah Eropa

suaraselaparang.com –  Taufik Kurniawan merupakan Putra asli Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menjadi satu-satunya peraih beasiswa Stipendium Hungaricum tahun ini di MATE University – Hungaria – Eropa Tengah. Sosok pemuda yang lebih akrab disapa Opik ini berasal dari Dusun Mumbul, Desa Sikur, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur – NTB.

Pria yang lahir 14 Februari 1996 ini memiliki hobi traveling dan menulis, serta berencana suatu saat bisa membangun startup yang bergerak dibidang Pendidikan karena itu merupakan salah satu dari sekian banyak cita-cita yang Ia gores dalam catatan mimpinya.

Opik bukan hanya baru pertama kali ini mendapatkan beasiswa ke Eropa, namun saat duduk di bangku S2 Ia juga mendapatkan beasiswa di Vistula University, Polandia berkat program dari Gubernur dan Wakil Gubernur NTB. Dia juga mendapatkan predikat cumlade ketika lulus S1 dari Universitas Hamzanwadi Selong dengan jurusan Bahasa Inggris.

 

Perjalanan Mendapatkan Beasiswa S2 dan S3:

Pada tahun 2015 ke atas adalah tahun dimana berburu beasiswa studi lanjut – khususnya di NTB sedang mencapai puncaknya. Di Universitas Hamzanwadi sendiri, jumlah penerima beasiswa lanjut studi pada waktu itu tergolong masih sedikit. Kurangnya akses informasi mengenai program beasiswa mungkin menjadi salah satu kendalanya.

“Beberapa dosen dan senior saya yang akan dan baru saja menyelesaikan studi mereka di kampus luar negeri melalui beasiswa menjadi pemicu semangat bagi saya pribadi untuk menjadi salah satu alumni penerima beasiswa luar negeri selanjutnya. Menjadi seorang alumni Bahasa Inggris tentu merupakan modal besar bagi saya untuk merealisasikan mimpi menjadi peraih beasiswa S2 di luar negeri, terlebih dengan kemampuan berbahasa inggris sebagai salah satu syarat mutlaknya,” tutur Opik.

Berbekal pengalaman dan prestasi akademik terkait yang sempat Ia raih selama studi S1, Dia percaya bahwa separuh amunisi sudah terpenuhi. Beberapa bulan menjelang kelulusan, sebagai bentuk persiapan, Ia kemudian aktif mencari informasi beasiswa yang tersedia. Sebagian besar aktifitas harian, bahkan Ia habiskan di warnet hanya untuk menggali informasi baru setiap harinya.

“Tak lupa, guna menambah bahan bakar semangat, saya juga sering membaca kisah-kisah perjalanan para pemburu beasiswa terdahulu, seperti Budi Waluyo dan lainnya, serta cara mereka mempersiapkan diri dalam meraih beasiswa,” terangnya

Akhirnya pada tahun 2018, bertepatan dengan wisuda S1, Opik melanjutkan, pemerintah NTB menerbitkan sebuah program yang memberikan kesempatan bagi pemuda/pemudi NTB untuk bisa merasakan pengalaman belajar di luar negeri untuk program pascasarjana. Kesempatan tersebut tentu disambut baik olehnya dengan gembira dan penuh semangat. Dengan persiapan yang dirasa cukup matang, Ia pun mencoba.

“Hasilnya, melalui program beasiswa NTB itu, saya menjadi salah satu dari 28 pemuda/i NTB yang diberangkatkan ke Eropa untuk menempuh studi S2 di Vistula University, Polandia. Senang rasanya bisa menjadi salah satu anak pelosok desa yang bisa mengukir jejak di langit Eropa,” tandasnya.

Tak sampai disitu, menjelang semester kedua, Dia kembali mendapat kesempatan untuk merasakan pengalaman belajar di belahan bumi Eropa lainnya, yaitu Hungaria, melalui program Erasmus: sebuah program pertukaran pelajar selama satu semester bagi mahasiswa/i internasional yang bernaung di bawah kampus-kampus Uni Eropa. Selama 6 bulan lamanya, Opik menjadi ‘Exchange Student’ alias mahasiswa pertukaran pelajar di Budapest Metropolitan University, Hungaria, serta tercatat sebagai mahasiswa Indonesia pertama yang menjejakkan kaki di kampus tersebut.

“Dari sinilah kuriositas saya terhadap Hungaria tumbuh yang kemudian membawa saya pada jejak-jejak baru, yaitu menjadi mahasiswa doctoral di negara yang sama melalui beasiswa Stipendium Hungaricum,” jelasnya.

Stipendium Hungaricum sendiri merupakan program beasiswa penuh (fully funded) dari pemerintah Hungaria yang dikelola oleh Tempus Public Foundation – sebuah lembaga non-profit yang didirikan oleh Pemerintah Hungaria dengan tugas mengelola program-program Kerjasama internasional di bidang Pendidikan. Indonesia sendiri, untuk tahun ini, mendapatkan jatah +- 70 penerima beasiswa untuk jenjang S1, S2, dan S3. Dan Opik merupakan satu-satunya putra NTB yang diterima tahun ini untuk program S3 bersama dua penerima lainnya yang berasal dari Aceh dan Yogyakarta.

 

Latarbekalang Kedua Orang Tua:

Opik dibesarkan oleh orang tua yang berangkat dari ekonomi kelas menengah. Bapaknya merupakan seorang pensiunan PNS. Sementara Ibundanya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Meski terlahir dengan ekonomi yang berkecukupan, kedua orang tua Opik selalu menekankan untuk menjalani hidup dengan sederhana.

“Orang tua saya memang tidak selalu bijak, mereka hanya lebih berpengalaman saja. Oleh sebab itu, mereka selalu mengajari saya tentang nilai hidup dari pengalaman meraka serta menekankan pentingnya belajar dan membangun usaha sedini mungkin agar kelak menjadi manusia yang lebih baik,” katanya, sembari menuturkan bahwa, kedua orang tuanya mendidik untuk terbiasa mandiri serta menaruh usaha pada setiap keinginan yang ingin diraih. Pun begitu dengan keinginannya dalam mengejar mimpi meraih beasiswa, orang tuanya hanya mampu membekali doa.

“Selebihnya, saya harus berusaha keras dalam merealisasikannya,” pungkasnya.

 

Orang-orang yang Telah Memberikan Inspirasi:

Beberapa orang-orang terdekatnya telah terlibat banyak serta menjadi titik-titik penghubung hingga Ia bisa sampai pada titik ini. Sebut saja Pak Hamzani Wathoni dan Pak Junaidi Marzuki, dua dosen S1nya. mereka merupakan para penerima beasiswa AAS Australia pada program pascasarjana – yang telah banyak membekalinya pelajaran dan pengalaman, serta mengantarkan dirinya pada cita-cita saya meraih beasiswa.

“Jangan lupakan Pak Selamet Riadi Jaelani. Dia adalah dosen S1 saya juga yang telah banyak memberikan sumbangsih motivasi dan semangat hingga saya bisa sampai pada titik ini. Rujukan terbaik tentu datang dari kedua orangtua saya, dua tokoh paling pundamental yang telah menjadi sumber inspirasi dalam hidup saya,” sebutnya

Banyak doa, harapan, kisah hingga pelajaran hidup yang mereka tanam dalam dirinya agar bisa dituai di kemudian hari. Tanpa itu semua, Ia mengaku mungkin tidak akan sampai pada titik ini. Tokoh lain yang juga banyak mempengaruhi perjalanan hidupnya adalah Andrea Hirata, salah satu penulis tersohor asal Belitong dengan novel fenomenalnya yang berjudul Laskar Pelangi, telah banyak menginspirasi Opik dalam meraih cita-cita.

“Karya-karya dari Andrea Hirata telah banyak memicu semangat saya memangun mimpi untuk menlajutkan studi setinggi-tingginya. Kisah-kisahnya selama berjuang meraih cita-cita telah menjaga lilin-lilin mimpi saya tetap menyala tanpa peduli batas negara,” katanya.

 

Tujuan Opik Saat Ini:

Sebagai seorang mahasiswa S3 yang berkonsentrasi pada pengembangan pariwisata desa dan pembangunan daerah, dan terlibat dalam upaya penelitian yang komprehensif dalam domain terkait merupakan tindakan penting yang dapat menghasilkan pengaruh yang signifikan terhadap suksesnya suatu pembangunan. Dia percaya bahwa suatu pembangunan yang baik selalu bersandar pada temuan-temuan dan hasil penelitian yang telah dikaji terlebih dahulu.

Oleh sebab itu, saat ini Dia melakukan penelitian pada bidang pengembangan pariwisata dan pembangunan daerah yang secara spesifik mengkaji dampak, strategi, dan beberapa isu terkait lainnya merupakan konsekuensi, taktik, dan berbagai aspek lain yang relevan, merupakan tujuan utamnya.

“Selain itu, disertasi yang saya kembangkan juga erat kaitannya dengan strategi pengembangan desa wisata di beberapa daerah potensial di pulau Lombok. Saya berharap, nantinya, upaya ini tidak berhenti hanya sebatas teori yang dipelajari saja. Tetapi, jauh daripada itu, semoga kedepannya hasil dari riset panjang ini dapat dijadikan sebagai acuan oleh para pemangku kepentingan untuk pembangunan kawasan wisata yang berkelanjutan dan berbasis kemasyarakatan yang dapat mendongkrak kesejahteraan sosial serta menumbuhkan ekonomi lokal, regional, bahkan nasional,” harapnya.

 

Cerita Waktu Kecil:

Waktu kecil, Opik merupakan anak yang cukup imajinatif. Ia banyak menghabiskan waktu berimajinasi tentang hal-hal menabjubkan yang akan Ia jalanai suatu hari nanti. Tidak sampai disitu, Ia juga selalu menulis apa yang menjadi cita-cita saya agar lebih mudah divisualisasikan. Salah satu yang melekat dalam benaknya adalah momen dimana Ia menulis daftar keinginan yang ingin diwaujudkan.

“Tak cukup sekadar ditulis, beberapa diantaranya saya gambar. Beberapa bagian tembok kamar saya pun penuh dengan tempelan gambar, mulai dari Candi Borobudur di Indonesia, Taj Mahal di India, Hingga Menara Eiffel di Paris Eropa. Kebiasaan ini terbawa hingga saya dewasa. Dimana, beberapa pengalaman dan harapan selalu saya bingkai dalam bentuk cerita singkat agar suatu hari bisa dibaca Kembali,” paparanya.

Kini, harapan-harapan yang tertuang dalam tulisan-tulisan tersebut, satu per satu, terwujud. Dari sini Ia belajar bahwa apa yang didapatkan hari ini merupakan buah dari mimpi-mimpi yang Ia timbun di masa lalu. “Jadi, perbanyak mimpi, lebihkan usaha, lebihkan doa. Kenikmatan terasa setalah berlelah-lelah berjuang. Jangan berhenti. Menyerah berarti menunda masa senang di masa mendatang,” pesannya.

 

Prestasi dan Karya-karya:

  • 2017, menjadi salah satu delegasi kampus dalam program pertukaran pelajar internasional antara Univeristas Hamzanwadi, Universiti Teknologi Malaysia, dan Nanyang University Singapura.
  • 2018, menjadi delegasi Indonesia dan NTB dalam program Camp Epic, sebuah program beasiswa non-degree yang diadakan oleh RELO Amerika dengan fokus pelatihan mengajar Bahasa inggris singkat untuk para calon guru masa depan. Program ini meliputi 3 negara: Indonesia, Timur Leste, dan Amerika.
  • 2019, menjadi awardee beasiswa NTB ke Polandia
  • Pada tahun yang sama, menjadi awardee program Erasmus ke Hungaria, sebuah program pertukaran pelajar selama satu semester bagi pelajar yang bernaung di bawah kampus-kampus Uni Eropa.
  • Pada tahun yang sama, mendirikan NGO atau Lembaga non formal: Arestha Course, yang terkonsentrasi pada pelatihan Bahasa Inggris, Pariwisata, dan perhotelan.
  • 2020, menerbitkan buku antologi: Konspirasi Rasa
  • 2021, menerbitkan buku antologi puisi: Loka Asmara
  • 2022, menerbitkan buku bimbingan belajar Bahasa Inggris: English in Daily Use
  • 2023, menjadi awardee Stipendium Hungaricum untuk program S3 di Hungaria

 

Pandangan Terhadap Pendidikan di NTB:

Dalam pandangan saya, ada kebutuhan yang berkelanjutan bagi pemerintah untuk mengalokasikan perhatian yang lebih besar terhadap kualitas pendidikan di NTB saat ini. Hal ini terlihat dari berbagai masalah pendidikan yang masih perlu diselesaikan, di antaranya adalah profesionalisme para tenaga pendidik dan distribusi guru yang masih belum merata. Merujuk pada data statistik, evaluasi pendidikan di NTB yang diperoleh dari hasil Asesmen Nasional (AN) selama dua tahun terakhir dinilai cukup memprihatinkan. Pasalnya, indeks refleksi guru dinyatakan masih pasif dan indeks kualitas pembelajaran dinyatakan masih disorientasi. Tentu saja, hal ini memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitas peserta didik yang dihasilkan. Oleh karena itu, dalam hal ini, pemerintah harus lebih berkonsentrasi untuk membina para pendidik, meningkatkan akses pendidikan, terutama di daerah terpencil, serta meningkatkan kualitas pembelajaran.

Terlepas daripada itu, menyediakan jalan bagi generasi muda untuk terlibat dalam studi lanjutan melalui inisiatif beasiswa NTB merupakan langkah inisiatif yang diterapkan oleh pemerintah untuk meningkatkan standar pendidikan di NTB. Pendekatan strategis ini merupakan komitmen besar dari pemerintah NTB terhadap sektor pendidikan, yang bertujuan untuk mendorong munculnya cendekiawan masa depan.

Bangsa ini sangat dipengaruhi oleh kualitas para pemudanya. Melalui program beasiswa yang diprakarsai oleh pemerintah ini, sebuah harapan untuk kemajuan NTB di masa depan telah ditanamkan, khususnya di bidang pendidikan. Saya berhap, semoga kedepannya, lebih banyak lagi generasi muda yang mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Karena saya percaya bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan suatu masyarakat, maka semakin baik pula kualitas sumberdayanya. (gok)

RELATED ARTICLES

Most Popular